
Wulan, korban pemerkosaan Aldi dan Mario kini telah tiba di kota Solo, ia langsung mencari penginapan murah. Solo, the spirit of java, sangat berbeda dengan kondisi di Jakarta. Kedamaian, kebudayaan yang penuh mistik, suasana jawa yang kental, memperbaharui sisi hati Wulan yang retak… mendorongnya untuk memulai kembali fase kehidupan yang terpenggal.
Malam pertama di Solo, Wulan menghabiskan waktu di kamar, sendiri, hanya televisi yang menemani, nasi bebek dan trancam menjadi pengganjal perutnya. Ia beranggapan mungkin polisi sekarang sudah membawa mayat Eno dalam koper birunya, muncul kekhawatiran… bekas sidik jari yang masih menempel di pegangan koper, mungkin akan diperiksa.
Cepat atau lambat, berita mayat dalam koper akan tersebar, bahkan bisa tersiar di TV, Wulan terus merenung dan merenung, nasi bebek hanya habis setengahnya dan dibiarkan tergolek di atas meja. Untuk menghilangkan gelayut rasa cemas, ia mengambil air wudhu, kemudian Sholat Isya, dan berdo’a.
Dalam do’anya Wulan ingin dijauhkan dari hal-hal jahat, dibebaskan dari dosa, diselamatkan dari kejaran polisi, dan meminta agar pemerkosa dirinya dan pembunuh Eno cepat ditangkap, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hambaMu yang hina ini, hamba sangat menyesal, ingin kembali ke jalan yang lurus menuju jalanMu, jauhkanlah dari orang-orang yang berbuat jahat, jauhkan dari kejaran polisi, hamba berharap keselamatan di dunia ini dan di akherat kelak, berikanlah ketenangan dan kesabaran, amin…”


